EKONOMI

Tuesday, 19 May 2020 - 17:35 WIB

5 months yang lalu

logo

Kapal pengangkut Kelapa Dalam di Pelabuhan Barang Nipah Panjang Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi. Foto: rin9

Kapal pengangkut Kelapa Dalam di Pelabuhan Barang Nipah Panjang Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi. Foto: rin9

Geliat Pengembangan Kelapa Dalam di Tanjabtim

TRENDJAMBINEWS.CO.ID, MUARA SABAK – Kelapa Dalam adalah komoditas strategis yang berperan sebagai peningkatan ekonomi dalam kehidupan masyarakat di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim). Manfaatnya tidak saja bergantung pada daging buahnya yang dapat diolah menjadi santan, kopra dan minyak melainkan seluruh bagian tanaman kelapa memiliki manfaat yang besar.

Menurut Pemerhati Pengusaha Kecil Menengah Kabupaten Tanjabtim, Arie Suriyanto Pengolahan kelapa di daerah tersebut masih bersifat tradisional karena keterbatasan wawasan petaninya. Keterlibatan pemerintah daerah secara langsung masih belum terlihat karena terlihat di lapangan petani dan konsumen berjalan sendiri-sendiri dalam memenuhi kebutuhan kelapa mereka.

Padahal jika pemerintah dan kalangan industri dapat terlibat langsung dalam pengelolaan usaha Kelapa Dalam secara profesional di daerah tersebut akan menjadikan pendapatan utama yang dapat berdaya saing yang berkelanjutan. “Tentunya akan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Tanjabtim pada sektoral pertanian kelapa karena kebutuhan kelapa saat ini cukup tinggi di pasaran,” tandasnya.

Belum lagi bila dapat diekspor ke luar negeri melalui pelabuhan yang di tanjabtim khsusunya di Nipah Panjang tidak bisa mengeluarkan dokumen Customs Clearance yakni proses administrasi pengiriman dan atau pengeluaran barang ke atau dari pelabuhan muat atau bongkar yang berhubungan dengan kepabeanan dan administrasi pemerintah. “Petani kita hanya sebagai pemasok melalui pelabuhan bongkar muat,” pungkasnya.

Padahal, sambung Arie kalau pelabuhan di Nipah Panjang bisa mengeluarkan dokumen Customs Clearance dampaknya akan begitu besar terhadap daerah ini, karena selain Kelapa Dalam, Tanjabtim akan dikenal di luar negeri sebagai daerah penghasil, dapat memberikan kontribusi PAD. “Selama ini saya lihat Kelapa Dalam yang dikirim ke luar negeri dari tanjabtim hanya sebagai produsen semata, daerah lain yang dapat nama,” pungkas Arie.

Selanjutnya Arie menambahkan industri Kelapa Dalam sangat perlu dikembangkan di Tanjabtim karena potensi usaha tani kelapa sangat memungkinkan karena saat ini diperkirakan 4-5 juta butir per tahun produksi Kelapa Dalam di Tanjabtim. “Namun produksi kelapa tersebut tidak berdampak kepada PAD Tanjabtim karena proses ekspornya diangkut dulu ke Guntung Kepri kemudian Clearence dari sana,” ungkap Arie

Menurutnya Pemkab Tanjabtim melalui instansi terkait dinilai tidak melakukan kebijakan-kebijakan tentang pemberdayaan budi daya Kelapa Dalam secara baik selaku pembina petani. “Seharusnya pemerintah melalui dinas terkait dapat memberikan penyuluhan untuk membudidayakan perkebunan Kelapa Dalam ketimbang latah mengembangkan Kelapa Sawit karena dari masa ke masa tanjabtim dikenal dengan kelapanya,” katanya.

Untuk itu, lanjut Arie usaha tani Kelapa Dalam harus terkait langsung dengan industri pengolahan yakni industri hilir dan hulunya, serta industri jasa keuangan. Tujuannya agar usaha pertanian kelapa mampu mendorong menjadi nilai tambah secara optimal dan proporsional sehingga pengaruhnya terhadap penambahan pendapatan petani dapat meningkat secara signifikan,” pungkas Arie Selasa, (18/05/2020)

Secara terpisah, seorang pengusaha pengolahan kelapa di lambur Kecamatan Sabak Timur, Fatma (45) membenarkan bahwa pengelolaan usahatani kelapa masih bersifat tradisional dan terbatasnya modal, maupun kualitas produk yang dihasilkan masih rendah. “Karena tiadanya peningkatan produktifitas petani dalam meningkatkan pengelolaan ke dalam seperti tenaga kerja, pendidikan keikutsertaan kelompok,” katanya.

Menurut dia, hingga saat ini belum ada perubahan yang signifikan dalam peningkatan produktifitas itu. Padahal bila usaha tani Kelapa Dalam yang berbasis organisasi dan kelompok tani dalam membentuk komunitas yang aktif dan mandiri akan meningkatkan posisi tawar petani itu sendiri, karena makin kuat dalam menentukan harga produk kelapa tersebut baik per butir maupun kopra.

Selanjutnya Fatma menambahkan petani kelapa dalam saat ini belum banyak yang berubah terhadap nilai tambahnya. “Sayang sekali, hasil melimpah tapi nilai tambahnya buat masyarakat secara signifikan tidak ada, padahal pangsa pasar ekspor cukup terbuka lebar untuk semua produk kelapa baik perdagangan minyak kelapa murni atau VCO (virgin coconut oil) yang makin meluas maupun produk turunan lainnya,” terang Fatma

Dia juga menjelaskan bahwa tata kelola niaga di Kabupaten Tanjabtim ini belum jelas regulasinya karena setiap orang bebas masuk ke petani dengan tidak menggunakan standar harga yang ada secara kompetitif. “Sehingga petani yang jadi korban karena tidak adanya kontrol dari pemerintah. Kita ingin petani bisa merasakan dampak langsung dari usaha pengolahan Kelapa Dalam secara positif dalam meningkatkan perekonomiannya,” ujarnya.

Diakui Fatma, walaupun dirinya tidak didukung pemerintah sebagai pendamping dan pembina para petani, tapi dia tetap bersikukuh berjuang dan terus mencoba mencari peluang-peluang yang bisa meningkatkan ekonomi kerakyatan walaupun saat ini masih dengan cara tradisional. “Ya mudah-mudahan pemerintah mau memperhatikan petani agar mampu mengelola secara profesional meningkatkan produksi Kelapa Dalam,” pungkasnya.

Dia mengatakan dirinya sangat mengharapkan uluran tangan pemerintah agar dapat melakukan pembinaan kepada para petani khususnya para usaha tani Kelapa Dalam, karena potensi Kelapa Dalam kedepan sangat terbuka luas pasarannya di dunia. “Oleh sebab itu lakukanlah yang terbaik kepada usaha tani kelapa, jangan hanya terpaku pada kelapa sawit semata yang membutuhkan modal yang besar,” tandasnya. (min)

Artikel ini telah dibaca 199 kali

Baca Lainnya