EKONOMI

Monday, 15 June 2020 - 22:30 WIB

4 months yang lalu

logo

Bawon, sedang mengasah parang yang terbuat dari peer mobil pesanan konsumen langganannya. Foto: rin9.

Bawon, sedang mengasah parang yang terbuat dari peer mobil pesanan konsumen langganannya. Foto: rin9.

Bawon, Pengrajin Pandai Besi Dari Nipah Panjang

TRENDJAMBINEWS.CO.ID, NIPAH PANJANG – Pandai Besi atau Tukang Besi saat ini terlihat langka karena tidak semua orang bisa melakukannya. Karena pekerjaan ini memerlukan tehnik tersendiri yakni dengan memanaskan besi peer mobil atau besi plat biasa.

Bagi pandai besi menghadapi hawa panas ketika memanaskan besi untuk membentuk sebuah parang atau pisau maupun alat pertanian lainnya bukanlah hal yang berat. Karena sudah menjadi bagian dari proses pekerjaan pandai besi.

Demikian yang dikatakan Bawon (73) yang berprofesi sebagai Pandai Besi di Kelurahan Nipang Panjang I Kecamatan Nipah Panjang Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) Provinsi Jambi. “Ya beginilah kerjaan pandai besi, panasnya api sudah bagian dari pekerjaan kami sebagai tukang besi,” katanya kepada reporter trendjambinews.co.id di workshopnya, Senin (15/06/2020).

Dalam menjalankan pekerjaannya sebagai Pandai Besi di Nipah Panjang, Bawon menggandeng menantunya sebagai patner mitra kerjanya. Foto: rin9.

Kata Bawon profesinya ini sudah ia geluti sejak tahun 1975 berketepatan ia masuk dan menetap di Nipah Panjang. “Sejak saya menetap di Nipah Panjang tahun 1975 saya langsung melayani pembuatan parang, pisau maupun alat pertanian lainnya untuk masyarakat disini,” tegasnya.

Harga pisau ataupun parang dari hasil kerjaannya bisa dibilang masih terjangkau. Dari harga Rp.40 ribu sampai Rp. 80 ribuan. “Harganya berpariasi, tergantung ukuran dan bahan besinya yang di pesan pelanggan,” kata Bawon yang dibantu menantunya dalam melaksanakan pekerjaan pandai besi tersebut.

Ditegaskannya pula dia bisa menjual hasil karyanya itu berkisar 6 sampai 8 pisau atau parang per hari. Dan dirinya juga menerima sepuhan parang dan pisau dari masyarakat. “Selain menjual kami melayani sepuhan juga,” tuturnya.

Ketika ditanya apakah dirinya mendapat bantuan yang terdampak Covid 19, sambil tersenyum dia menggeleng. “Kami tidak dapat bantuan mungkin dianggap kurang layak,” jawabnya singkat. (rin9)

Artikel ini telah dibaca 312 kali

Baca Lainnya